Sakura yang Berguguran : Misi Sekali Jalan Kamikaze

Kamikaze adalah sebutan bagi tentara Jepang yang merelakan hidupnya untuk melakukan serangan bunuh diri ke Amerika. Tugas mereka adalah menabrakkan pesawat mereka ke armada-armada perang sekutu. Mungkin kita berpikir hanya sedikit orang yang merelakan diri, akan tetapi ternyata serangan unit khusus ini tidak pernah kekurangan orang. Banyak yang mendaftar karena mereka menganggap ini adalah pengorbanan bagi tanah air, Sang Kaisar, dan dewa. Para tentara kamikaze yang mati dianggap sebagai orang suci dan seperti bunga sakura yang berguguran. Arwah mereka juga dianggap akan menemati altar Kuil Yasukuni di Tokyo. Tentara-tentara ini juga mendapat doktrin untuk membakar semangat mereka saat di camp. Mendekati keberangkatan mereka untuk misi sekali jalan ini, diadakan pesta, selain itu biasanya sanak keluarga dibolehkan untuk menjenguk para tentara kamikaze. Banyak juga tentara kamikaze yang mengirimkan surat untuk keluarganya. Inilah beberapa surat yang ditulis oleh tentara kamikaze

Nama : Susumu Kaijitsu
Skuadron : Genzan (Wonsan) — Korea
Pangkat : Letnan Dua (laut)
TTL : Omura—Nagasaki, 1923
Pendidikan : Akademi Teknik Nagoya

Ayah, Ibu, Saudaraku Hiroshi dan Takeshi serta Eiko yang tersayang ;
Saya percaya bahwa musim semi ini akan membawa kalian dalam kondisi sehat. Saya tidak pernah merasa lebih baik dan sekarang saya sedang bersiap sedia, siap untuk beraksi.
Beberapa hari yang lalu, saya terbang di atas rumah kita dan memberikan salam perpisahan kepada para tetangga dan kalian semua. Terima kasih kepada Bapak yamakawa yang memberi kesempatan minum bersama untuk terakhir kalinya bersama Ayah. Sekarang tidak ada yang dapat saya lakukan kecuali menunggu panggilan bertugas.
Aktivitas sehari-hari saya biasa-biasa saja. Kekhawatiran terbesar saya bukan terhadap kematian, tetapi bagaimana meyakinkan diri bahwa saya dapat menenggelamkan kapal induk musuh. Letnan Dua Miyazaki, Tanaka, dan Kimura yang akan terbang menyerang bersama saya, adalah orang-orang tenang. Perilaku mereka tidak menunjukkan bahwa mereka saat ini sedang menunggu perintah untuk melakukan serangan penabrakan yang terakhir. kami menghabiskan waktu dengan menulis surat, bermain kartu dan membaca.
Saya yakin bahwa rekan-rekan saya akan memimpin Jepang yang kudus untuk menuju kemenangan.
Kata-kata tak dapat mengekspresikan terima kasih saya kepada kedua orang tua yang mencintai, mengasuh dan mengurus saya hingga dewasa. Saya berharap dapat membalas sebagian kecil anugrah yang telah diberikan oleh Yang Mulia Kaisar kepada kita semua.
Mohon saksikan hasil upaya saya yang tidak seberapa ini. Jika upaya saya bagus, berpikirlah yang baik tentang saya dan anggaplah ini keberuntungan saya untuk dapat melakukan sesuatu yang berguna. Yang paling penting, jangan menangis untukku. Walaupun tubuh saya musnah, saya akan kembali dalam bentuk arwah yang akan terus bersama kalian selamanya. Pikiran dan salam saya selalu untuk kalian, teman-teman kita dan para tetangga. Akhir kata, saya selalu mendoakan agar keluarga yang kucintai ini selalu sejahtera ***

Nama : Teruo Yamaguchi
Skuadron : Amakusa
Pangkat : Letnan Dua (laut)
TTL : Goto Jima—Nagasaki, 1923
Pendidikan : Universitas Kokugakuin—Nagoya

Ayah tersayang:
Saat kematian semakin dekat, saya hanya menyesal tidak dapat melakukan kebaikan apapun bagimu pada saat saya hidup. saya tidak menyangka akan terpilih untuk menjadi pilot serangan khusus dan akan menuju Okinawa hari ini. Setelah perintah diberikan untuk menjalankan misi sekali jalan ini, setulusnya saya berharap dapat mencapai kesuksesan dalam memenuhi tugas terakhir ini. Walaupun demikian, saya tidak dapat mengabaikan perasaan keterikatan terhadap tanah Jepang yang indah ini. Apakah ini merupakan kelemahan saya?
Setelah mengetahui bahwa waktu saya telah tiba, saya menutup mata dan melihat gambaran wajah ayah, ibu dan nenek serta wajah teman-teman sekalian. Ini benar-benar membangkitkan semangat bahwa semua mengharapkan agar saya menjadi berani. Saya akan melakukannya! Pasti!
Kehidupan saya dalam ketentaraan tidak dipenuhi oleh kenangan manis. Ini adalah kehidupan yang penuh dengan kepasrahan dan penyangkalan diri, yang pasti tidak menyenangkan. Satu-satunya pembenaran untuk mengikuti ketentaraan ini adalah kesempatan yang diberikan untuk mati bagi negara. Jika ini terasa pahit, mungkin karena saya telah mengalami indahnya kehidupan sebelum bergabung dengan ketentaraan.
Beberapa hari yang lalu, saya menerima ajaran kehidupan dan kematian dari Kapten Otsubo yang kau kirimkan. Saya berpendapat, walaupun dia memang benar dalam beberapa hal, dia lebih terpaku pada pandangan umum ketentaraan. Tak ada gunanya saya ungkapkan di sini, tetapi selama saya hidup hingga 23 tahun ini, saya punya cara sendiri.
Saya tidak menyukai penipuan yang dilakukan oleh para politisi licik kita terhadap rakyat yang tidak berdosa. Tetapi saya bersedia untuk menerima perintah dari komando tertinggi, bahkan dair para politisi, karena saya mempercayai bentuk pemerintahan Jepang.
Cara hidup bangsa Jepang memang indah dan saya bangga dengannya, sebagaimana saya bangga terhadap sejarah dan mitologi Jepang yang menggambarkan kesucian para leluhur kami dan kepercayaan mereka di masa lalu — baik kepercayaan itu benar atau tidak. Cara hidup ini merupakan produk semua hal baik yang dirutunkan para pendahulu kita kepada kita. Dan bentuk nyata semua hal baik di masa lalu kita adalah Keluarga Kekaisaran yang merupakan kristalisasi dari kemegahan dan keindahan Jepang dan penduduknya. Merupakan kehormatan untuk dapat memberikan jiwa saya dalam memertahankan hal-hal yang inidah dan tinggi ini.
Okinawa adalah bagian Jepang sama seperti Pulau Goto. Sebuah suara di hati saya selalu berkata bahwa saya harus mengalahkan musuh yang melanggar tanah air kita. Kuburan saya akan berada di sekitar Okinawa dan saya akan bertemu kembali dengan ibu dan nenek. Saya tak merasa menyesal dan takut menghadapi kematian. Saya hanya berdoa bagi kebahagiaanmu serta saudara sebangsa dan setanah air.
Penyesalan terbesarku di dalam hidup ini adalah kegagalan untuk memanggilmu ‘chichiue’. Saya menyesal tak dapat menunjukkan penghormatan sebenarnya yang saya miliki terhadapmu. Dalam penerjunan terakhir, walau kau tak dapat mendengarnya, saya akan mengucapkan ‘chichiue’ untukmu dan memikirkan apa yang telah kau lakukan untukku.
Saya tidak memintamu mengunjungi saya di pangkalan karena saya tahu kau sudah nyaman di Amakusa. Di sana adalah tempat tinggal yang baik. Pegunungan di utara pangkalan mengingatkan saya kepada Sugiyama dan Magarisaka di Pulau Goto. Saya juga teringat saat kau mengajak Akura dan saya pergi piknik ke Matsuyama dekat gudang mesiu. Saya juga teringat saat bepergian bersamamu ke krematorium di Magarisaka sebagai anak kecil tanpa benar-benar menyadari ibu telah tiada.
Saya meninggalkan semuanya untukmu. Mohon jagalah saudara-saudara perempuanku dengan baik.
Satu kemunduran dalam sejarah tidak bearti hancurnya sebuah bangsa. Saya berharap kau akan berumur panjang. Saya yakin, sebuah Jepang yang baru akan muncul. Bangsa kita tak boleh terburu-buru mencari kematian.

Salam sayang.
Beberapa saat sebelum terbang,

Teruo

Tanpa memandang nyawa atau nama, seorang samurai akan mempertahankan tanah airnya.

Nama : Isao Matsuo
Skuadron : 701
Pangkat : Sersan Satu
TTL : Nagasaki

28 Oktober 1944
Kedua Orangtuaku Tersayang :
Ucapkan selamat padaku. Saya telah diberi kesempatan sangat bagus untuk mati. Ini adalah hari terakhir saya. Masa depan tanah air kita tergantung pada pertempuran menentukan yang terjadi di lautan sebelah selatan. Di sanalah saya akan gugur laksana bunga dari pohon ceri yang bersinar.
Saya akan menjadi perisai bagi Yang Mulia dan mati dengan bersih bersama komandan skuadron dan rekan-rekan saya. Saya berharap dapat terlahir kembali sebanyak tujuh kali dan berulang kali menghancurkan musuh.
Saya sangat menghargai kesempatan untuk mati sebagai seorang laki-laki! Dari lubuk hati terdalam saya mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua yang telah membesarkan saya bersama doa yang terus menerus dan selalu memberikan cinta. Saya berterima kasih kepada komandan skuadron dan para atasan saya yang telah mengurus saya seakan-akan saya adalah anak mereka sendiri.
Terima kasih, kedua orang tuaku, selama 23 tahun ini telah mengurus dan memberikan inspirasi kepadaku. Saya berharap, tindakan saya ini dapat membalas sebagian kecil pemberian kalian kepadaku. Ingatlah tentang diriku dan ketahuilah bahwa Isao mati bagi negara kita. Ini adalah harapan terakhirku dan tiada hal lain yang aku inginkan.
Saya akan kembali sebagai arwah dan menunggu kunjungna kalian di kuil Yasukuni. Tolong jaga diri kalian baik-baik.
Jayalah Unit Giretsu Korps Serangan Khusus yang pesawat pembom Suisei-nya akan menyerang musuh. Kameramen film datang kemari dan mengambil gambar kami. Mungkin kalian dapat melihat kami dalam rangkaian berita di bioskop.
Kami adalah 16 pejuang yang mengawaki pesawat pembom. Semoga kematian kami secepat pecahnya kristal.

Ditulis di Manila sesaat sebelum kami melakukan serangan.

Isao

Terbang ke langit di atas lautan selatan, inilah misi kami yang mulia untuk mati sebagai pelindung Yang Mulia. Bunga ceri akan brekilau pada saat berkembang dan berguguran***

Nama : Jun Nomoto
Skuadron : Himeji
Pangkat : Kadet
TTL : Nagasaki—1922
Pendidikan : Universitas Perdagangan—Tokyo

Manusia tidaklah abadi. Kematian, seperti juga kehidupan, hanya merupakan masalah kesempatan. Walaupun demikian, takdir juga berperan. Saya meyakini kemampuan saya dalam melaksanakan serangan pada esok hari. Akan melakukan yang terbaik dalam melakukan tukikan langsung terhadap kapal perang musuh untuk memenuhi takdir saya dalam mempertahankan tanah air. Telah tiba waktunya bagi kawan saya Nakanishi dan saya sendiri untuk berpisah. Tidak ada penyesalan apapun. Setiap orang suatu waktu nanti pasti akan berpisah.
Sejak unit kami dibentuk pada akhir Februari, kami telah mengikuti latihan intensif. Akhirnya, tibalah saat kami untuk melakukan serangan. Pada petunjuk terakhir kami, komandan berpesan kepada kami, “Jangan terburu-buru untuk mati.” Saya melihat semua tergantung dari Surga.
Saya telah memutuskan untuk mencapai tujuan yang telah dipilihkan takdir untukku. Kalian berdua selalu baik kepadaku dan saya sangat berterima kasih. 15 tahun yang saya habiskan untuk belajar dan berlatih segera akan membuahkan hasil. Saya sangat senang dilahirkan di negara kita yang mulia ini.
Saya sangat yakin bahwa esok hari kami akan berhasil. Saya berharap engkau turut meyakininya. Waktu keberangkatan kami ditentukan begitu cepatnya sehingga saya tidak sempat menulis surat terakhir kepada sanak saudar dan kawan-kawan. Saya sangat menghargai jika engkau dapat menulis kepada mereka atas nama saya, jika memungkinkan dan menyeampaikan perasaan saya …
Kedua Orang Tuaku Tersayang :
Mohon maaf karena saya harus mendiktekan kata-kata terakhir ini kepada kawan saya. Saya tidak sempat lagi untuk menulis lebih banyak.
Tak ada hal khusus yang dapat saya katakan, tetapi saya ingin kalian tahu sekarang saya sangat sehat. Adalah kehormatan besar untuk terpilih melaksanakan tugas ini. Pesawat-pesawat pertama dari kelompok saya sudah terbang. Kata-kata ini dituliskan oleh teman saya di atas kertas yang diletakkan di atas badan pesawat. Tak ada penyesalan atau kesedihan. Pandangan saya tidak berubah. Saya akan melaksanakan tugas dengan tenang.
Kata-kata tak dapat menunjukkan rasa terima kasih saya kepada kalian. Saya berharap, tindakan terakhir saya untuk menyerang musuh ini dapat membayar sebagian kecil semua pengorbanan kalian untukku.
Permohonan terakhir saya adalah agar saudara-saudara laki-laki saya mendapat pendidikan yang layak. Sudah pasti orang-orang yang kurang berpendidikan hidupnya akan hampa. Mohon diusahakan agar kehidupan mereka sebahagia mungkin. Saya tahu saudara perempuan saya telah diurus dengan baik karena kalian akan memperlakukan dia seperti memerlakukan saya. Saya sangat bersyukur memiliki ayah dan ibu yang hebat.
Saya sangat senang jika usaha terakhir saya dapat menjadi balasan bagi warisan yang telah diberikan para leluhur kita.
Selamat Tinggal!
Jun ***

Nama : Nobuo Ishibashi
Skuadron : Tsukuba
Pangkat : Letnan Satu (Laut)
TTL : Saga— 1920

Ayah Tersayang:
Musim semi sepertinya datang lebih cepat di Kyushu bagian selatan. Di sini, bunga-bunga bermekaran dengan indahnya. SUasananya tenang dan damati, padahal sebenarnya ini adalah medan pertempuran.
Semalam saya tidur dengan nyenyak, bahkan tidak bermimpi. Hari ini pikiran saya jernih dan saya merasa sangat sehat.
Saya senang karena tahu saat ini kita berada di pulau yang sama. Mohon ingatlah saya ketika engkau pergi ke kuil dan berikan salam kepada semua teman-teman kita.
Nobuo
Saya akan memikirkan musim semi di Jepang ketika terbang menjulang untuk menyerang musuh. ***

Nama : Ichizo Hayashi
Skuadron : Genzan (Wonsan)—Korea
Pangkat : Letnan Dua
TTL : Fukuoka—1922
Agama : Kristen
Pendidikan : Universitas Kekaisaran—Kyoto

Ibu Tersayang:
Saya percaya ibu sehat-sehat saja.
Saya adalah anggota Unit Shichisei Korps Serangan Khusus. Setengah anggota unit kami hari ini terbang ke Okinawa untuk menukik menyerang kapal-kapal musuh. Sisanya akan menyerang dalam dua atau tiga hari. Mungkin sekali serangan kami akan dilakukan pada tanggal 8 April, hari lahir Budha.
Kami bersantai di tempat tinggal perwira yang berlokasi di bekas bangunan sekolah di dekat pangkalan udara Kanoya. Karena tidak ada listrik, kami membuat api unggun besar dan saya menuliskan kata-kata ini dengan bantuan cahayanya.
Moral sangat tinggi setelah mendengar kesuksesan besar yang dicapai oleh rekan-rekan kami yang telah terbang lebih dahulu. Pada waktu sore, saya berjalan-jalan di padang semanggi sambil mengingat masa lalu.
Pada saat kami tiba di sini dari Korea bagian utara, kami terkejut melihat bunga-bunga ceri sedang berguguran. Kehangatan iklim selatan ini sangat nyaman dan menyenangkan.
Tolong jangan bersedih untukku, ibu. Sangat mulia untuk mati dalam perang untuk menentukan takdir negara kita.
Rute penerbangan kami dari Korea menuju Kyushu tidak melewati rumah kita, tetapi ketika pesawat kami mendekati tanah air, saya menyanyikan lagu yang biasa kita nyanyikan dan mengucapkan selamat tinggal kepadamu. Tidak ada hal penting yang saya ingin katakan, karena Umeno akan meneruskan keinginan terakhir saya kepadamu. Saya menulis hanya untuk menceritakan kejadian-kejadian yang saya alami di sini.
Silahkan perlakukan barang-barang saya sesuka ibu setelah saya mati.
Beberapa bulan terkahir saya jarang menulis surat, saya sangat menghargai jika ibu mengingatkan tentang saya kepada saudara dan teman-teman. Saya menyesal harus meminta ibu melakukannya, tetapi waktu saya sekarang sangat sempit untuk menulis.
Banyak pemuda kita yang terbang hari ini untuk melakukan misi sekali jalan melawan musuh. Saya berharap engkau dapat berada di sini untuk melihat indahnya semangat dan moral di pangkalan ini.
Tolong bakar semua surat-surat pribadi saya, termasuk catatan harianku. Tentu saja ibu dapat membacanya jika ingin. Tetapi surat-surat ini tidak boleh dibaca oleh orang lain. Jadi, tolong bakar semua setelah ibu selesai membacanya.
Pada saat penyerbuan terakhir, kami akan menggunakan seragam terbang biasa dan sebuah ikat kepala yang bergambar matahari terbit. Selendang seputih salju akan menambah gagah penampilan kami.
Saya juga akan membawa bendera matahari terbit yang ibu berikan kepadaku. Ibu pasti ingat bahwa bendera itu berisi puisi, “Walaupun seribu berguguran disebelah kananku dan sepuluh ribu orang berguguran di sebelah kiriku…” Saya akan menyimpan fotomu pada saat menyerang, ibu dan juga foto Makio.
Saya akan melalukan serangan telah ke kapal musuh dengan baik. Ketika hasil perang diumumkan, ibu dapat meyakini bahwa salah satu kesuksesan ini dibuat olehku. Saya berusaha untuk tetap tenang dan melakukan pekerjaan sempurna sampai akhir, karena saya tahu ibu akan mengawasiku dan berdoa bagi kesuksesanku. Tidak akan ada keraguan atau ketakukan ketika saya melakukan tukikan terakhir.
Pada serangan terakhir, kami akan mendapat sebuah paket yang berisi semur kacang buncis dan nasi. Sangat menyenangkan untuk berangkat dengan makan siang yang enak ini. Saya pikir saya akan membawa jimat dan Bonito kering dari Bapak Tateishi. Bonito ini akan membantu saya timbul kembali dair samudra, ibu dan berenang kembali kepadamu.
Pada pertemuan selanjutnya kita selanjutnya, kita akan membicarakan banyak hal yang sulit untuk didiskusikan dalam bentuk tulisan. tetapi, kita telah hidup bersama dengan penuh keterbukaan sehingga tidak ada hal lain yang perlu untuk diucapkan. “Sekarang saya hidup dalam mimpi yang esok hari akan membawa saya pergi dari bumi.”
Pemikiran ini membuat saya merasa bahwa mereka yang telah malaksanakan misinya kemarin masih hidup. Mereka dapat muncul kembali kapan saja.
Pada saat saya pergi, tolong terima kepergian saya sekali untuk selamanya. Seperti perkataan, “Let the dead past bury its dead”. Sangat penting bahwa keluarga hidup untuk yang masih hidup.
Pada sebuah film yang baru-baru ini diputar, sepertinya saya melihat Hakata. Ini membuat saya ingin bertemu dengan Hakata lagi untuk terakhir kalinya sebelum melaksanakan misi terakhir ini.
Ibu, saya tidak ingin engkau meratapi kepergianku. Tidak masalah jika ibu ingin menangis. Silahkan menangislah. Tetapi sadarilah bahwa kematianku untuk yang terbaik dan jangan merasa sedih karenanya.
Saya memiliki kehidupan yang bahagia, karena banyak orang telah berlaku baik terhadapku. Kadangkala saya bertanya mengapa. Merupakan penghibur hati untuk berpikir bahwa saya memiliki beberapa perbuatan baik yang membuatku berhak mendapatkannya. Sangat sulit untuk mati dengan pemikiran bahwa seseorang belum melakukan apapun selama hidupnya.
Dari semua laporan, terlihat jelas bahwa kami telah menghadang gerakan musuh. Kemenangan akan bersama kita. Serangan kami akan memberikan Coup De Grace bagi musuh. Saya sangat senang.
Kita hidup dalam semangat Yesus Kristus dan kita mati di dalam semangat itu. Pemikiran ini tetap ada bersamaku. Sangat memuaskan untuk hidup di dunia ini, tetapi sekarang hidup terlihat tidak ada artinya. Inilah waktu untuk mati. Saya tidak mencari alasan untuk mati. Saya hanya mencari sebuah sasaran musuh dan menukik.
Ibu adalah seorang ibu yang hebat untukku. Saya hanya takut tidak dapat membalas perhatian yang engkau berikan kepadaku. Kondisi kehidupan saya membuat saya senang dan bangga. Saya berusaha mempertahankan kebanggaan dan kebahagiaan ini hingga akhir nanti. Jika saya tidak merasakan lingkungan dan kesempatan semacam ini, hidupku akan tidak berharga. Jika sendiri, saya tidak terlalu berguna. Karena itu, saya sangat senang mendapat kesempatan untuk bretugas sebagai seorang pria. Jika pemikiran ini terdengar ganjil, mungkin karena saya mulai mengantuk. Masih ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, tetapi saya terlalu mengantuk.
Tidak ada lagi yang perlu saya katakan sebagai ucapan selamat tinggal.
Saya akan mendahuluimu, ibu, dalam mencapai Surga. Doakan saya dalam memasukinya. Saya akan menyesal jika dihalangi masuk ke Surga yang pasti akan mengijinkanmu masuk.
Doakan saya, ibu.
Selamat tinggal,
Ichizo

Nama : Heiichi Okabe
Skuadron :Genzan (Wonsan)—Korea
Pangkat : Letnan Dua (Laut)
TTL : Fukuoka, 1923
Pendidikan : Universitas Kekaisaran Taihoku

22 Februari 1945
Akhirnya saya menjadi anggota Korps Serangan Khusus.
Kehidupan saya akan berakhir dalam tiga puluh hari ke depan. Kesemaptan saya akan datang! Kematian dan saya sama-sama menunggu. Pelatihan dan praktek telah dilakukan dengan keras, tetapi tidak masalah jika kita dapat mati dengan indah untuk sebuah tujuan.
Saya akan mati sambil melihat perjuangan menyedihkan bangsa kita. Kehidupan saya akan berlari beberapa minggu ke depan pada saat masa muda dan kehidupan saya akan berakhir…
… Penyerbuan dijadwalkan dalam waktu sepuluh hari ke depan.
Saya hanya manusia biasa, tidak berharap menjadi orang suci atau bajingan, pahlawan atau orang bodoh—hanya manusia biasa. Sebagai seseorang yang menghabiskan hidupnya dalam pengharapan dan pencarian, saya akan mati dengan harapan kehidupanku akan menjadi sebuah “dokumen manusia”.
Dunia dimana saya hidup terlalu penuh dengan pertentangan. Sebagai komunitas manusia rasional seharusnya dunia lebih teratur. Tanpa adanya seorang konduktor besar, semua orang akan mengeluarkan suaranya sendiri-sendiri, sehingga menimbulkan kegaduhan dan bukan menghasilkan melodi dan harmoni.
Kami melayani negara dengan rela dalam perjuangannya yang menyakitkan ini. Kami akan terjun menuju kapal-kapal musuh dengan mebawa keyakinan bahwa Jepang telah dan akan selalu menjadi tempat dimana hanya rumah yang cantik, wanita-wanita pemberani dan persahabatan indah yang diperbolehkan ada.
Apakah tugas hari ini? Untuk bertempur.
Apakah tugas esok hari? Untuk menang.
Apakah tugas sehari-hari? Untuk mati.
Kami mati dalam pertempuran tanpa mengeluh. Saya ingin tahu, apakah orang-orang lain, seperti para ilmuwan yang melakukan perjuangan dengan cara mereka masing-masing, juga akan mati seperti kami tanpa mengeluh. Hanya jika ini terjadi maka kesatuan Jepang akan muncul sehingga timbul kemungkinan memenangkan perang.
Jika, karena suatu keajaiban, Jepang tiba-tiba memenangkan perang, ini akan menjadi nasib buruk bagi masa depan bangsa. Lebih baik bagi bangsa dan rakyat kita jika mereka ditempa melalui perjuangan berat yang akan memperkuat ***

Seperti bunga ceri yang mekar
Di musim semi
Biarkan kami gugur
Bersih dan bersinar

Kisah Bonus : Peristiwa Di Pangkalan Kanoya

Suatu hari, seorang ibu dan anaknya datang dari Tokyo untuk menjenguk tunangan anaknya. Surat terakhirnya menyatakan bahwa dia dipindahkan ke Kanoya. Karena tidak pernah mendengar kabar apapun, mereka menjadi khawatir dan datang untuk menjenguknya. Mereka tak tahu bahwa dia adalah seorang pilot kamikaze dan beberapa hari yang lalu telah melaksanakan misi ke Okinawa.
Seorang teman dekat pilot ini yang menerima kedua wanita ini tidak dapat memberikan penjelasan. Dia datang untuk meminta nasihat saya. Kami tidak dapat mengatakan yang sebenarnya karena telalu kejam dan tanpa perasaan. Atas saran saya (penulis: Kolonel (Laut) Rikihei Inoguchi), dia mengatakan bahwa pilot tersebut telah dipindahkan ke sebuah pangkalan di pulau garis depan. Dia kemudian membawa mereka berkeliling tempat tinggal ini dan mengajak mereka untuk melihat ruangan yang baru saja ditempati pilot tersebut. Mereka memandangi seisi ruangan dengan senang dan sang gadis menyentuh tempat tidur bambu yang pernah ditiduri tunangannnya.
Kedua wanita tersebut tidak menanyakan apa-apa lagi. Tetapi terlihat bahwa secara insting mereka tahu apa yang telah terjadi… ***

referensi : Rikihei Inoguchi, Tadashi Nakajima, Roger Pineau — 神風 (http://www.bluefame.com/topic/317383-surat-surat-terakhir-sang-dewa-angin/)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s